Perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah cara siswa memperoleh informasi, memahami materi, dan menyelesaikan persoalan pembelajaran. Di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), perubahan tersebut menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari pengalaman siswa ketika berinteraksi dengan asisten virtual kognitif

Pendekatan fenomenologi dapat digunakan untuk memahami pengalaman tersebut secara lebih dekat. Fokusnya bukan sekadar seberapa canggih sebuah sistem AI, melainkan bagaimana siswa merasakan, menafsirkan, dan memanfaatkan teknologi tersebut dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Ketika AI Menjadi Teman Belajar
Bagi siswa SMK, proses belajar memiliki karakter yang berbeda karena teori berjalan berdampingan dengan praktik. Siswa jurusan teknologi, misalnya, dapat berhadapan dengan konfigurasi jaringan, pemrograman, troubleshooting, keamanan komputer, hingga berbagai permasalahan teknis yang membutuhkan proses berpikir sistematis.
Asisten virtual kognitif dapat berperan sebagai pendamping awal ketika siswa membutuhkan penjelasan. Pertanyaan yang sebelumnya harus menunggu guru atau mencari informasi dari berbagai sumber dapat memperoleh respons dalam waktu singkat.
Namun, respons cepat bukan berarti siswa dapat menerima semua jawaban begitu saja. Justru di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi penting. Siswa perlu membandingkan informasi, menguji jawaban, dan memahami alasan di balik solusi yang diberikan AI.
Pengalaman Siswa di Era Sekolah Digital
Fenomena penggunaan AI di SMK di Jawa Timur juga berkaitan dengan perubahan budaya belajar. Siswa semakin terbiasa menggunakan perangkat digital sebagai bagian dari aktivitas pendidikan. Lingkungan seperti SMK di Sidoarjo memiliki peluang besar untuk mengembangkan pola pembelajaran yang memadukan kompetensi kejuruan dengan literasi teknologi.
Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) yang menekankan keterkaitan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Di tengah perkembangan tersebut, identitas sekolah tidak cukup dibangun melalui fasilitas modern. SMK terbaik, SMK favorit, atau SMK keren justru perlu menunjukkan bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa.
Dari Sidoarjo untuk Ekosistem Vokasi
Penggunaan asisten virtual kognitif dapat menjadi bagian dari eksperimen pembelajaran di SMK di Indonesia, termasuk sekolah vokasi di Sidoarjo dan Surabaya. Guru tetap memiliki posisi penting sebagai pengarah, sementara AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu eksplorasi dan latihan.
Di lingkungan SMK MAWA, misalnya, perkembangan teknologi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara kerja, manfaat, keterbatasan, serta dampaknya terhadap dunia pendidikan dan industri.
Pada akhirnya, pembahasan tentang AI di sekolah bukan semata-mata mengenai perangkat lunak baru. Yang lebih menarik adalah bagaimana siswa mengalami perubahan cara belajar, membangun rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin digital.
By.Moch Wildan Dwi Syaputra